Persembahan kepada Tuhan
Injil hari ini menyampaikan dua hal kepada kita: suatu peringatan tentang bahaya memiliki pemimpin-pemimpin religius yang hanya mencari diri mereka sendiri dan tentang persembahan sejati seorang janda yang miskin. Kedua hal itu nampaknya berbeda satu sama lain, namun sebenarnya keduanya sangat mendalam. Di satu pihak kita melihat gambaran orang-orang yang hanya mencari diri mereka sendiri dilain pihak kita melihat gambaran orang yang sama sekali melupakan dirinya. Yang pertama kebetulan adalah seorang pemimpin religius dan yang kedua kebetulan adalah seorang umat awam yang sederhana.
Mencari pujian dan kehormatan untuk mendapatkan popularitas adalah kecenderungan yang banyak menjadi godaan bagi para pemimpin atau banyak orang pandai. Kecenderungan itu pada hakekatnya berkaitan dengan keinginan untuk mendapatkan nama baik. Dalam perjalanan sejarah Gereja Katolik pernah gereja juga menghiasi dirinya dengan’ jubah yang panjang-panjang’ . Namun syukurlah pada akhirnya gereja sadar bahwa kerendahan hati mulai dilihat sebagai hal utama yang harus dimiliki oleh seseorang yang menjadi pemimpin dalam Gereja
Poin terpenting dalam Injil hari ini adalah tentang persembahan janda miskin. Hal yang mempesona dari tindakan janda miskin ini adalah bagaimana dia sanggup memberikan semua yang dimilikinya yakni semua nafkahnya. Tindakan seperti itu mungkin hampir tak pernah kita alami baik diantara orang miskin maupun diantara orang kaya. Janda miskin ini adalah contoh orang luar biasa yang sangat jarang ditemukan lagi. Ada orang luar biasa diantara orang kecil, tetapi bukan karena perbuatannya yang menurut ukuran manusia hebat, namun janda miskin ini telah melakukan hal yang luar biasa karena ia telah melakukan perbuatan kecil yang besar, yaitu berkurban demi Allah. Pemberian janda miskin ini sangat kecil dinilai dari nilai nominalnya. Dengan uang senilai itu orang tidak dapat mendirikan sebuah rumah ibadat baru, tetapi dengan pemberiaannya yang secara nominal kecil itu ia telah memberikan andil yang besar untuk membangun kehidupan umat menjadi lebih baik daripada sikap orang ahli-ahli Taurat yang dikecam oleh Tuhan Yesus dalam Injil hari ini.
Bagaimana dengan kita? Setiap hari minggu, kita pergi berdoa ke gereja untuk berdoa. Salah satu bagian dari peribadatan kita adalah liturgi persembahan. Dalam liturgi persembahan ini kita diajak untuk mempersembahkan milik kita kepada Tuhan melalui gereja-Nya. Berkaca dari Injil hari ini kita bisa bertanya kepada diri kita sendiri tentang bagaimana sikap kita memberikan persembahan kepada Tuhan hari ini: Apakah kita memberikan persembahan itu dengan uang yang kita anggarkan untuk memberikan persembahan kepada gereja ataukah kita memberikan persembahan itu dengan mengorbankan hak kita untuk mendapatkan sesuatu dengan uang tersebut dan menjadikannya sebagai persembahan kepada Tuhan? Bila persembahan kita adalah hasil dari pengorbanan kita untuk mendapatkan sesuatu dan kita rela untuk melepaskan hal itu untuk dapat mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, maka sekecil apapun nilai nominal dari persembahan itu pastilah akan sangat berkenan kepada Tuhan. Sebaliknya sebesar apapun nilai nominal persembahan kita, kalau hal itu adalah ‘hasil dari sisa uang’ setelah kita memenuhi segala kebutuhan kita, maka persembahan itu sebenarnya kurang berkenan dihadapan Tuhan.
Rm. Yoyon CM
No related posts.
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.







