Siapa yang diselamatkan?
Semua manusia merindukan keselamatan untuk dirinya, baik keselamatan dalam pengembaraan hidupnya di dunia ini maupun keselamatan kekal bersama Allah setelah pengembaraannya di dunia ini berakhir. Kerinduan akan keselamatan itu disadari atau tidak telah menggerakkan manusia untuk melakukan banyak hal di dalam hidupnya. Namun karena jalan menuju keselamatan itu kadang-kadang kabur dan tidak selalu jelas bagi manusia maka seringkali manusia harus meraba-raba dan mencari-cari jalan keselamatan itu. Tak jarang dalam usaha ini manusia tersesat: Mengira bahwa apa yang dilakukannya akan membawanya kepada keselamatan, namun ternyata dugaannya itu salah.
Menarik sekali bahwa dalam Injil hari ini Tuhan Yesus memaparkan kepada para murid-Nya dan kita semua tentang siapakah yang akan mengalami keselamatan yang sejati itu. Dari pengajaran Tuhan Yesus hari ini kita bisa memahami bahwa keselamatan seseorang itu tidak didasarkan pada apa yang perbuatan-perbuatan tertentu yang diyakini oleh manusia dapat mendatangkan keselamatan, tetapi keselamatan itu akan diterima oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mengarahkan hidupnya kepada Allah.
Apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus hari ini mengoreksi pandangan dan keyakinan yang seringkali kita dengar ada dalam banyak orang. Seringkali kita mendengar dan melihat bahwa orang dianjurkan untuk melakukan ibadat, dan perbuatan-perbuatan baik karena diyakini bahwa hal-hal tersebut bila dilakukan akan mendatangkan keselamatan. Namun ternyata tidak sesederhana itu. Peribadatan dan doa-doa serta perbuatan-perbuatan yang baik tidak otomatis mendatangkan keselamatan bagi orang-orang yang melakukannya. Sebab dalam pengajaran Yesus hari ini jelas sekali ditegaskan bahwa hal yang paling menentukan bagi keselamatan bukanlah perbuatan-perbuatan tetapi keterarahan hati kepada Tuhan.
Keterarahan hati seseorang kepada Tuhan memang terungkapkan dalam sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Peribadatan dan doa-doa serta perbuatan-perbuatan baik merupakan salah satu buah dari keterarahan hati manusia kepada Tuhan. Namun tidak selalu peribadatan dan doa-doa serta perbuatan-perbuatan baik itu dilakukan oleh manusia sebagai ungkapan keterahan hati kepada Tuhan. Hal itu nampak jelas dalam kehidupan masyarakat kita pada umumnya. Betapa banyak dalam dan seringkali kita melihat peribadatan, doa-doa dan perbuatan-perbuatan baik dilakukan dalam masyarakat kita. Namun sayangnya tidak banyak dari tindaka- tindakan itu yang sungguh-sungguh mengalir dari hati masyarakat yang terarah kepada Tuhan. Sebab dalam masyarakat kita sering kita menjumpai kejanggalan-kejanggalan: rumah ibadah dan peribadatan-peribadatan selalu penuh dengan orang dan kegiatan namun angka kejahatan dan penderitaan dalam masyarakat juga semakin bertambah.
Satu pesan Injil hari ini bagi kita yang selalu rajin beribadah dan selalu ingin berbuat baik karena sungguh merindukan keselamatan: Kita diajak untuk melihat atau merefleksi diri. Apakah ketekunan kita beribadah dan berbuat kebaikan itu sungguh mengalir dari keterahan hati kita kepada Allah? Ataukah kita melakukan semua itu tanpa keterarahan hati kepada Allah karena kita mengira bahwa tindakan-tindakan itu akan mendatangkan keselamatan buat kita?
( Rm. Yoyon CM )
Related posts:
- Cobaan bagi yang mau hidup berbagi Saat Yesus menjalani puasa selama 40 hari empat dan empat...
- Renungan Minggu Biasa XXII Berkaca dari hidup Yesus Penderitaan dan hal-hal yang tidak menyenangkan...
- Hendaklah kamu sempurna Hidup kita di dunia adalah sebuah proses perjalanan. Perjalanan itu...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.







