Hidup adalah Anugerah
Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC
Apa yang dikendaki Tuhan adalah bersyukur. “Apa yang dapat aku syukuri di dunia yang kejam ini ?”, tanyaku pada diriku. Jeratan problema semakin hari semakin bertambah kuat. Matahari pagi tidak lagi menjadi berkat yang harus disambut dengan sukacita. Ketika mentari menebarkan sinarnya, banyak orang berkata : “Masalah apa lagi yang akan menimpa ?”. Hidup adalah problema dan bukannya anugerah. Hidup pun dijalani begitu saja tanpa gairah. Terjun dari jembatan menjadi godaan untuk mengakhiri masalah.
Ketika pikiranku sedang menerawang atas kehidupan yang penuh penderitaan, seorang ibu menyapaku pada saat upacara pemakaman seorang nenek yang sederhana di sebuah kampung yang jauh dari Pastoran Gereja Santa Odilia Tangerang. Tiba-tiba ia membuyarkan lamunanku : “Romo, nanti minggu depan datang ke rumahku ya untuk merayakan ulang tahun yang pertama anakku. Anakku ini lahir satu hari setelah Romo memberkati rumahku”. Aku bingung kapan ibu itu hamil karena pada waktu pemberkatan rumahnya perutnya masih rata. Anaknya ini merupakan mukjizat yang harus disyukurinya. Seorang penyapu jalan memberikan anak itu kepadanya karena ia melahirkan tanpa suami yang jelas. Anaknya itu merupakan jawaban Tuhan atas doanya selama ini. Ketika lulus SMA, ia berdoa kepada Tuhan : “Tuhan berikanlah aku suami yang baik”. Tuhan memberikan suami yang baik, saleh, dan rajin bekerja. Gaji sebagai buruh pabrik memang tidak seberapa, tetapi selalu cukup bagi keluarganya. Setelah menikah, ia meminta diberi momongan karena ia anak tunggal. Orangtuanya tentu rindu menimang cucunya. Tahun demi tahun berlalu sampai usia pernikahannya menginjak tujuh tahun, tetapi tanda-tanda kehadiran seorang bayi tak kunjung datang. Ia terbayang akan kematian orangtuanya tanpa seorang cucu didekapannya. Setiap malam ia menangis di kamar sambil memukuli bantal sebagai ungkapan kekesalannya. Ia akhirnya meninggalkan harapannya untuk mendapatkan seorang anak yang lahir dari kandungannya. Ia mencoba mengadopsi anak untuk meramaikan rumahnya, tetapi selalu gagal mendapatkannya. Ia melupakan segala kekecewaannya dengan aktif dalam pelayanan kematian. Ketika ia berpasrah kepada Tuhan, pada suatu subuh seorang pembersih jalan tersebut di atas menyerahkan bayi merahnya kepadanya : “Ibu, tolong rawat anakku ini. Aku yakin anakku kelak akan menjadi orang yang baik karena berada dalam bimbingan ibu yang penuh perhatian terhadap orang-orang yang susah”. Ia bersyukur bahwa Tuhan memberikan seorang bayi laki-laki kepadanya. Ia menamainya “Winner” dengan harapan ia akan menjadi pemenang dalam kehidupan.
Dua hari kemudian ibu itu menelefonku dengan kegirangan : “Romo, aku dinyatakan hamil oleh dokter kandungan. Aku kini tahu apa yang Tuhan maksudkan dalam kehidupanku selama tujuh tahun berlalu. Ia membentukku untuk semakin hari semakin penuh kasih sehingga siap untuk menerima kehadiran anak-anak-Nya dengan hati yang penuh cinta. Kasih dan cintaku akan menjadi benteng anak-anakku untuk mengarungi dunia yang kejam dan saling memakan”. Ia mengakhiri sharing kegembiraannya dengan harapan yang penuh keyakinan : “Kedua anakku adalah lilin – lilin kecil yang sangat berarti yang selalu berada dalam penjagaan Tuhan dan suatu hari akan menjadi matahari bagi sesama”.
Di bawah air keruh ada banyak ikan. Di balik kegetiran hidup senantiasa ada banyak anugerah. Bersyukur atas yang ada itulah yang dikehendaki Tuhan. : “Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus !” (Mazmur 30:5). Wujud konkretnya : bersyukur atas kehidupan walaupun tidak selalu enak; bersyukur atas pekerjaan walaupun gajinya tidak sesuai dengan kelelahannya; bersyukur karena bisa makan walaupun satu hari saja; bersyukur masih bisa menyekolahkan anak walaupun tidak di sekolah yang mahal. Bersyukur atas yang ada membuat Tuhan akan senantiasa menambahkan anugerah-Nya. Marilah selalu bersyukur dalam doa sehinga menjadi senjata ampuh melawan iblis yang selalu ingin merusak diri, iman, dan keluarga !. Sepenggal bait dari lagunya D’massive “Syukuri apa adanya, hidup adalah anugerah” dapat menjadi pengingat untuk mensykuri segalanya. Tuhan memberkati.
Related posts:
- Sebuah inspirasi untuk hidup bersama Suatu ketika ada seorang yang bertanya kepada saya: “Bisakah orang...
- Kesaksian hidup Katolik Jika kita sedikit membandingkan antara peribadatan Katolik dengan peribadatan yang...
- Pilihan dalam hidup Hidup manusia ditandai dengan suatu proses memutuskan. Setiap saat kita...
- Bersyukurlah Senantiasa! Oleh Pastor Felix Supranto, SS.CC Sabtu pagi, tanggal 02 Juli...
- Apakah yang kamu cari? Setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia tentu mempunyai tujuan. Tuhan...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.







