Yang Muda Yang Mengisi Kemerdekaan
Tuesday, August 18th, 2009Sepulang dari misa 17-an, bapak saya sedikit komplain kepada saya. Isinya kira-kira seperti ini dengan menggunakan setengah bahasa jawa setengah bahasa indonesia: “Mudika saiki ki’ payah…mosok misa 17-an ki’ ming ngono tok’….” Artinya kira-kira seperti ini, mudika jaman sekarang payah, masak misa 17-an hanya begitu saja. Komplain tersebut kiranya beralasan, karena ketika beliau melanjutkan ceritanya, hanya ada perayaan misa saja, tidak ada upacara seperti dulu apalagi acara-acara meriah seperti lomba atau yang lain. Sebenarnya apakah mudika FX sudah tidak ada? Sampai pengisi koor hanya diisi sepuluh orang saja. Apakah ini benar-benar mencerminkan mudika FX?
Pertanyaan itu sebenarnya pun ditujukan kepada saya, karena secara umur dan domisili, saya juga tercatat sebagai mudika FX. Dan hal ini juga sebenarnya menggelitik batin saya, apakah benar kaum muda FX sudah tidak ada? Bukankah sudah banyak komunitas yang ada di FX? Seperti seksi kepemudaan, mudika, lalu yang baru-baru ini muncul yaitu GAFAX (Gerakan Kasih Fransiskus Xaverius)- maaf kalau saya salah dalam penulisannya. Kemana saya? Kemana mereka semua? Ketika gereja butuh tenaga untuk mengisi kemerdekaan yang ke-64 ini, kemana tenaga-tenaga muda tersebut? Entah tiba-tiba saya tidak bisa menjawab pertanyaan beliau, ketika gereja membutuhkan tenaga muda kita termasuk saya sendiri…
Mungkin bagi beberapa teman-teman tulisan ini akan terasa mendeskriditkan atau bahkan ada anggapan bahwa saya hanya bisa komentar saja tapi tidak pernah bergerak…tapi tak apalah, toh semua orang bisa saja berpendapat. Tapi yang ingin saya mengingatkan kembali pada teman-teman muda, bahwa semestinya kaum muda lah yang mengisi kemerdekaan ini, dengan banyak kegiatan, entah dengan perayaan upacara, misa secara semarak dengan tema kemerdekaan, atau dengan lomba yang meriah atau kalau kita ingin lebih bagus, kita bisa mengadakan bakti sosial atau kegiatan kemanusiaan yang lain.
Namun kesemuanya itu tidak kita lakukan, kenapa? Saya juga belum tahu kenapa. Apakah kita semua merupakan anak muda yang super sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing sehingga tidak sempat dengan kegiatan gereja yang tidak akan menghasilkan uang? Atau rasa kepedulian kita tentang pentingnya mengisi kemerdekaan sebagai wujud syukur telah diberi kemerdekaan tersebut telah hilang dan terkikis karena berbenturan dengan individualitas kaum muda seperti kita?
Pertanyaan seperti itu mestinya kita termasuk saya yang harus menjawab itu dengan perbuatan, tidak hanya sebuah pernyataan kata-kata yang omong kosong saja. Karena sudah layak dan pantas kalau yang muda-muda seperti kita, termasuk saya ini yang harus mengisi kemerdekaan. Sama halnya yang dikatakan oleh Yesus, yang kira-kira seperti ini bunyinya, apa yang menjadi hak kaisar berikanlah kepada kaisar, apa yang menjadi hak Tuhan berikanlah kepada Tuhan. Bila saya artikan secara positif, kita dapat melakukan kedua-duanya, dengan mengisi kemerdekaan di gereja. Karena kita bisa memberikan dan melakukan apa yang menjadi hak sebagai warga negara dan umat Tuhan secara bersamaan dengan mengisi kemerdekaan secara meriah di lingkungan Gereja FX kita tercinta. Semoga tulisan ini menggugah rekan-rekan muda sekalian, karena masih ada tahun depan untuk membuktikan bahwa yang muda lah yang mengisi kemerdekaan. Semoga…








