History

Agama Katolik Memasuki Kota Pelabuhan Tanjung Priok

Konon pada awal abad 20, di belahan Utara kota Batavia (Kota lama Pancoran- Glodok), ke arah Timur Laut berkembang sebuah kota yang dikenal dengan Kota Pelabuhan Tanjung Priok. Kota pelabuhan yang dibangun oleh pemerintah Belanda ini semakin ramai seiring dengan berkembangnya arus perdagangan di Wilayah Batavia pantai utara. Pada tahun 1930 tercatat kota Pelabuhan Tanjung Priok berpenduduk sekitar 25.781 jiwa, terdiri dari 23.408 orang pribumi, 1.870 Tionghoa, 311 orang Eropa/Belanda, 192 orang Timur Tengah (India, Pakistan dan Arab). Orang pribumi sebagian besar merupakan pendatang dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Para pendatang itu membaur dalam suatu kehidupan bermasyarakat di kota Pelabuhan Tanjung Priok, yang membawa serta budaya dan agama masing-masing dari daerah asalnya. Beberapa agama yang berkembang pada saat itu antara lain agama Budha (etnis Tionghoa), Islam (dari Jawa Barat dan Sulawesi Selatan), Hindu (dari India ), Nasrani (Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur).

Jumlah umat Katolik waktu itu relatif masih sedikit, kurang dari 50 jiwa. Kurangnya gembala umat atau Pastor pada waktu itu, merupakan kendala utama sehingga umat Katolik kurang mendapatkan pelayanan. Baru pada tahun 1932 dua orang Pastor MSF untuk pertama kalinya berkarya di Kota Batavia, melalui suatu lembaga Central Missie Bureau. Pastor Baptist, MSC untuk pertama kalinya berkarya di Batavia, disusul oleh Pastor Edwards Cappers, MSC. Kedua pastor inilah yang kemudian ditugasi untuk menggembalakan umat Katolik di Pelabuhan Tanjung Priok.

Stasi Kota Pelabuhan Tandjung Priok

Sebelum tahun 1929, bisa dikatakan bahwa umat Katolik menghadapi masalah antara lain, tempat tinggalnya berpencar, sarana transportasi tidak mendukung, kesulitan dalam berkomunikasi karena faktor bahasa, sehingga kesulitan untuk mengadakan kegiatan beribadat.

Baru pada sekitar tahun 1930 mulai diadakan doa rosario, jalan salib bersama diikuti oleh kaum pribumi dan Tionghoa dengan menggunakan bahasa Belanda, sedangkan Misa dilaksanakan dengan bahasa Latin tetapi homili dengan bahasa Belanda.

Pada tahun 1932 bersama-sama dengan kelompok umat Katolik Mangga Besar, dibentuk Stasi Tanjung Priok dan Stasi Mangga Besar, yang berinduk pada Paroki Katedral. Kehidupan umat Katolik waktu itu (terutama kaum pribumi dan Tionghoa) semakin berkembang dan membutuhkan pelayanan secara lebih intensif.

Gereja Pelabuhan warisan Tentara Belanda (1947)

Sampai dengan tahun 1940 jumlah umat Katolik mencapai sekitar 90 jiwa. Ketika itu jumlah penduduk Tanjung Priok baru sekitar 50.000 jiwa. Meskipun Tanjung Priok sudah berstatus Stasi, namun karena belum mempunyai tempat yang memadai, maka misa masih diselenggarakan di Stasi Mangga Besar (tahun 1938 terbentuk Paroki Mangga Besar).

Misa Kudus Pertama di Kota Pelabuhan Tanjung Priok

Umat Katolik Stasi Kota Pelabuhan Tanjung Priok sekitar tahun 1940 kondisinya masih sangat minim jumlah dan kualitas imannya. Para pastor rutin melakukan kunjungan umat. Pastor-pastor itu antara lain Pastor Cappers, Pastor Beune, S.J., Pastor Leo Zwaans S.J., Pastor Kohler O.F.M. dan Pastor Van Berkel, SVD. Intensitas kunjungan para Pastor dirasakan sangat kurang.

Pada tanggal 24 Maret 1940 pada hari Raya Paskah kedua, merupakan hari yang sangat bersejarah bagi umat Katolik Stasi Kota Pelabuhan Tanjung Priok, karena saat itu untuk pertama kalinya diadakan Misa Kudus bersama sekitar 43 orang umat Katolik di kediaman keluarga Clemens Boe – di Jalan Djamboeweg (Jalan Jambu) dan selanjutnya berpindah ke Doesoenweg (Jalan Dusun). Jumlah umat Katolik terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada Tahun 1942 jumlah umat Katolik di Kota Pelabuhan Tanjung Priok telah mencapai sekitar 100 orang, dan pada tahun 1951 jumlah umat meningkat dengan tajam dari 100 orang menjadi 350 orang.

Misa hari Minggu di Gereja Pelabuhan (1947)

Tahun 1945 tentara Jepang menyerah terhadap Sekutu, Indonesia menyatakan kemerdekaannya, tetapi Belanda tidak ingin kehilangan Indonesia. Maka tahun 1947 tentara Belanda mendarat kembali di Batavia termasuk di kota Pelabuhan Tanjung Priok. Tahun 1947 di dalam ringbewaking pelabuhan Tanjung Priok dibangun sebuah ‘bangunan gereja darurat’, di bekas gudang yang terletak di dalam pelabuhan, di Jalan Ambon atau sering disebut “Gereja Pelabuhan” (belum ada nama pelindung). Pimpinan stasi kota pelabuhan Tandjung Priok diambil alih oleh seorang pastor Jesuit – Pastor W.Pabst, S.J. pada tanggal 13 September 1951. Saat itu jumlah umat telah mencapai sekitar 350 jiwa (170 orang Indonesia dan 180 orang Eropa)

Berdirinya Paroki Santo Fransiskus Xaverius – Tandjung Priok

Jumlah umat Katolik di kota Pelabuhan Tanjung Priok pada tahun 1952 telah mencapai angka sekitar 400 jiwa. Buku Baptis pertama dibuat bulan Januari tahun 1952 oleh pastor Kepala Pastor W.Pabst, S.J. Dalam Buku Baptis tersebut tercatat umat yang pertama kali dibaptis tanggal 28 Oktober 1951 bernama Yacobus Lego, disusul tanggal 13 Januari 1952 atas nama Yacobus Sugi.

Benda Bersejarah di Paroki

St. Fransiskus Xaverius

Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tandjung Priok didirikan berdasarkan Stichtingsbrief van Het R.K.Kerk-En Armbestuur van De Kerk van De H.Franciscus Xaverius Te Tandjung Priok yang ditanda tangani oleh Pastor Willkens,S.J. Ap.Vic. di Djakarta tanggal 2 Januari 1952. Wilayah teritorial Paroki meliputi sebelah Utara teluk Jakarta sampai dengan Pulau Seribu, di sebelah Timur Cilincing sampai dengan Maronda, di sebelah Selatan daerah Plumpang dan Tanah Merah, sebelah Barat Warakas, Papango, Sungai Bambu dan Sunter.

Tahun 1960 jumlah umat Paroki semakin bertambah besar (sekitar 1700 jiwa). Impian untuk membangun gedung gereja kurang mendapat dukungan baik dari segi keuangan maupun lokasi. Maklum kondisi sosial ekonomi umat Paroki sungguh sangat memprihatinkan.

Meskipun hanya mempunyai bangunan “Gereja Pelabuhan”, warisan tentara Belanda yang dibangun sekitar tahun 1947, jumlah umat Katolik semakin bertambah.

Pada tanggal 2 Januari 1952 Mgr. Willekens,S.J. mengangkat status Stasi Tandjung Priok menjadi paroki dengan nama pelindung Santo Fransiskus Xaverius.

Paroki Memiliki sebuah Kapel dan Gereja

Sementara belum bisa membangun sebuah gereja, pada tanggal 3 Juni 1965 dengan uang pribadi, Romo Kurris berhasil membangun sebuah kapel, dinamakan Kapel Maria Bintang Laut (MBL), terletak di derah Warakas (kapasitas 250 umat). Kemudian, karena kondisinya kurang memadai, pada akhir tahun 2004 Kapel MBL direnovasi dan selesai tanggal 1 Mei 2005.

Kapel Maria Bintang Laut – Warakas

Tanggal 1 September 1966 Bapak Laksamana Haryono Nimpuno Pangdaeral III Tanjung Priok, menghadiahkan sebidang tanah seluas 4200 m2. Letaknya sangat strategis yakni di Jalan Yos Sudarso By Pass atau di Jalan Melati No.1 sekarang ini. Di atas tanah inilah dibangun sebuah gereja Katolik oleh Romo Kurris S.J.

Pembangunan gedung gereja dimulai tanggal 11 Oktober 1969 – dengan pemancangan 55 beton sedalam 15 m – dan diselesaikan pada tanggal 3 Desember 1970. Posisi bangunan

Gereja menghadap ke Barat ke arah jalan Yos Sudarso atau Jalan By Pass di sebelah Barat, sedangkan Gedung Pastoran menghadap Utara ke arah Jalan Melati No.1 Rawa Badak Utara, Koja Jakarta Utara.

Penanaman tiang pancang pembangunan Gereja St. Fransiskus Xaverius (11-Oct-1969)

Sejak berdirinya Paroki Santo Fransiskus Xaverius tahun 1952, sampai dengan tahun 1996, penanggungjawab reksa pastoral ditangani oleh kongregasi Serikat Jesus (S.J.). Baru pada tahun 1996 sampai sekarang penanggungjawab reksa pastoral beralih ke kongregasi “Congregatio Missionis” ( C.M.).

Perkembangan dan Statistik Paroki.

Seiring dengan perkembangan pelabuhan Internasional Tanjung Priok, sejak tahun 1970 jumlah umat Paroki cenderung meningkat terus. Tahun 1960 jumlah umat mendekati 4000 jiwa, tahun 1980 mendekati angka 8000 jiwa. Sejak tahun 1987 Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok dimekarkan menjadi dua Paroki, yakni Paroki Santo Fransiskus Xaverius – Tanjung Priok dan Paroki Salib Suci – Cilincing.

Gereja St. Fransiskus Xaverius (1970)

Sejak pemekaran paroki, jumlah umat Paroki Santo Fransiskus Xaverius menyusut menjadi sekitar 6000 jiwa. Pada tahun 1990 jumlah umat Paroki menyusut secara drastis menjadi sekitar 5000 jiwa. Hal ini karena terjadinya perpindahan domisili umat ke luar Tanjung Priok, sebagai dampak dari perluasan Pelabuhan Internasional Tanjung Priok.

Visi, Misi dan Arah Pastoral

Visi Paroki adalah :

Persekutuan umat Allah Paroki FX yang berpusat pada Yesus, mengikuti tugas perutusannya mewartakan kabar gembira kepada orang miskin, dengan memperjuangkan kedamaian , keadilan dan cinta kasih dalam komunitas basis insani.

” EVANGELIZARE PAUPERIBUS MISIT ME

(saya diutus mewartakan kabar baik kepada orang miskin)

Misi Paroki adalah :

a. Membangkitkan, mengembangkan dan memperkokoh persekutuan dan kasih persaudaraan sejati dalam komunitas basis insani.

b. Memberdayakan umat Paroki untuk menyediakan atau memberikan waktu, kasih, perhatian dan pelayanan kepada orang miskin dan menderita.

c. Mendampingi kaum muda menuju kemandirian dalam menghadapi masalah-masalah yang khas tentang krisis iman, identitas dan masalah pergaulan.

Gereja St. Fransiskus Xaverius Tg. Priok (2006)

Untuk mewujudkan Visi dan Misi tersebut, senantiasa dicanangkan arah pastoral dan tema kerja tahunan. Tahun 2008 arah pastoral adalah: “Mewujudkan Perutusan Kristus Dalam Komunitas Basis Insani dengan menghayati dan mengamalkan hidup dalam persaudaraan, kewartaan atau kesaksian, peribadatan dan pelayanan. Sedangkan tema kerja tahun 2008 “Semakin Setia dengan Kritus Semakin Siap Diutus”

  • Share/Bookmark
Warta FX
Kalender Liturgi
Gallery
                                                            dscn0014-desktop-resolution.jpg
Links
Liturgi & Kegiatan
  • Events are coming soon, stay tuned!
INFO

Temukan informasi terbaru mengenai Gereja Fransiskus Xaverius , iman dan panduan agama Katolik , berita umat , maupun artikel yang menarik , penting , lucu dan seru disini . Berikan tanggapan dengan menuliskan comments. SIlahkan register terlebih dahulu untuk dapat menuliskan komentar dan berinteraksi . Kami juga mengharapkan partisipasi anda untuk menyumbangkan kesaksian , pengalaman iman, maupun berita-berita Paroki terbaru. Mau kirim komentar langsung ? tinggal isi guestbook.

FX Facebook

FX Facebook

FREE Hot Spot

FREE HOT SPOTGereja Katolik Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok telah memiliki fasilitas Hot Spot Gratis persembahan dari TELKOM Speedy.

Polling

Setiap masyarakat mempunyai tradisi atau kebiasaan. Apakah Anda tahu apa saja kebiasaan orang Katolik?

View Results

Loading ... Loading ...

Siapa yang memperkenalkan dan mengajarkan kepada Anda kebiasaan-kebiasaan tersebut

View Results

Loading ... Loading ...

Menurut Anda salah satu kebiasaan orang Katolik yang sekarang ini mulai kurang dihayati, dilestarikan dan dikembangkan adalah

View Results

Loading ... Loading ...
Sponsor